Logistik di Era Vuca

Jack Ma pernah mengatakan kalimat yang sangat menarik; IT (information technology is about), I have, you don't have but DT (Data Technology) is about; "You have, I don't have." Cukup lama untuk memikirkan apa yang di maksud sang bilioner pendiri alibaba ini. Namun secara tidak sadar, setiap hari apa yang kita lakukan dengan gadget kita, kita memberikan kontribusi yang besar dalam Data Technology. Untuk lebih mudahnya, kita coba buka smartphone kita dan masuk pada playstore (android) dan apa yang kita lihat? coba lihat pada suggested for you. Anda akan ditawarkan aplikasi yang direkomendasikan oleh playstore untuk anda install. Kita ambil contoh lain yang sering dibicarakan, amazon.com, pilihlah salah satu buku dan anda lihat, apa yang ditampilkan selain buka yang anda pilih? Lihat pada customer who bought this item also bought, ditampilkannya lah buku-buku lain yang pembeli pilih disaat mereka membeli buku yang anda pilih pertama kali.

Bagaimana amazon.com bisa memberikan rekomendasi buku-buku lain yang kadang tidak sama topik ataupun temanya dengan buku awal yang kita pilih. Tapi itulah contoh dari perkembangan DT (Data Technology). Kebiasaan (behaviour), Data statistik penjualan, data per klik, data buy item, dan lainnya bukanlah hanya sembarang data yang selama ini kita anggap tidak berarti. Sama dengan facebook, twitter, instagram dimana data dari like, retweet, repost, dll merupakan data yang akan mereka olah sedemikian rupa untuk menjadi referensi mereka dalam menentukan strategi-strategi pemasaran dan penjualannya.

Disebut akhir-akhir ini kita sudah masuk pada era VUCA yang merupakan kepanjangan dari Volatility (ketidakstbalian), Uncertainty (ketidakpastian) Complexity (keberagaman), Ambiguity (ketidakjelasan) menjadi tantangan yang nyata bagi para pebisnis untuk menjalankan bisnisnya untuk lebih smart dalam pemilihan strategi. Dengan kata lain, saat ini bisnis memasuki pasar yang serba tidak pasti dan mudah berubah.

Bagi online seller / shopper, mungkin era ini akan menjadi keuntungan bagi mereka, dimana dengan perkembangan yang ada sekarang, merekapun bisa dengan mudahnya memperkenalkan produknya borderless. Tidak lagi harus memiliki outlet untuk berjualan baju seragam, peralatan olah raga, dan lainnya. Tapi coba kita lihat berapa lama mereka bisa menjual satu jenis produk tanpa pesaing (menjual barang yang sejenis)? Timeframe mereka semakin pendek sebagai single player dalam memegang satu jenis produk. Tidak dimungkinkan dalam hitungan haripun akan muncul online seller lain yang juga menjual produk yang sejenis dengan harga yang hanya berbanding sedikit. Begitu rapuhnya pasar sehingga memaksa mereka harus memilih strategi yang tepat untuk tetap dikenal oleh pembeli-pembelinya sebagai recommended seller.

Jika kita bicara pasar pada online shop. Lalu bagaimana dengan bisnis pengiriman / transportasi atau bicara lebih luasnya lagi pada bisnis logistik? Bagaimana strategi yang tepat untuk bertahan pada era VUCA ini? Strategi yang saat ini terlihat adalah pada pengembangan aset dan infrastruktur. Kita membaca berita bagaimana perusahaan transportasi akan membangun giant hub untuk lebih memastikan layanannya akan maksimal ke pelanggan. Mereka akan menambah armada transportasi untuk meningkatkan load dari pengiriman, pembangunan kantor-kantor cabang baru, atau membangun sistem aplikasi pada smartphone yang akan mempermudah klien-klien mereka untuk bertransaksi, atau mereka lebih memilih untuk sistem pemasaran yang tidak sedikit baik di media cetak ataupun elektronik. Akankah strategi ini longlasting? Akankah penambahan infrastruktur dan aset ini akan beresiko dalam pasar yang masih rapuh dan cepat berubah? Apakah VUCA tidak berpengaruh pada bisnis logistik? Jika kita berbicara hukum rimba, benar sekali mereka yang kuat di financial, infrastructure, market (branding) merekalah yang akan bertahan. Yang terjadi hanyalah akan menciptakan kekuatan-kekuatan lain yang berusaha untuk menumbangkan yang terkuat saat ini.

Terbuka lebarnya para investor asing untuk masuk dalam pasar nasional secara langsung akan berdampak pada perang yang tidak akan terelakkan.

Ketika itu terjadi dan pasti terjadi, maka lirik dalam salah satu bait Guns 'N Roses; "Welcome to the jungle, It get worse here everyday, your learn to live like animal..." akan mewakili kondisi ini. Dan dambaan setiap pebisnis adalah tinggal di Paradise City; "take me down to the paradise city, when the grass is green and the girls are pretty,...".

Bagaimana strategi yang akan tepat dipilih oleh pebisnis nasional logistik di era VUCA ini? sama halnya dengan pertarungan di ecommerce para online shopper. Strategi akan bisa berubah dalam hitungan Bulan, minggu, sampai hari. Borderless information mendorong informasi akan akan semakin terbuka dan besar sekali jika dulu ACER mengatakan "Me Too Is Not My Style", terlihat bahwa Me Too style ini akan lebih sering digunakan untuk berperang dalam persaingan. Tidak perlu membuang banyak waktu untuk menerapkan strategi me too ini. Ikuti mereka yang sudah berjalan, terlihat berhasil, maka penerapan strategi yang sama akan dianggap akan memberikan hasil yang sama.

Dilain hal yang masih dilupakan peluang mencari niche, disaat pasar sudah memasuki area red ocean, secara tidak sadar pebisnis akan larut dalam kesehariannya sehingga melupakan waktu untuk mencari niche market. Itulah yang saat ini terjadi. Pemain besar logistik dan transportasi sedang berlomba-lomba untuk mempertahankan pangsa pasarnya (sustaining the market), dengan secara gencar menambah infrastruktur pendukung, teknologi yang lebih mumpuni, penambahan armada, penambahan kantor-kantor layanan secara nasional, dan lainnya. Salahkah? Tentu tidak. Disaat konsentrasi adalah pada market sustaining untuk membendung kekuatan-kekuatan baru yang masuk. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, sampai kapan akan dilakukan dan sebatas apa kekuatan dalam sustaining the market dengan strategi tersebut? Kompetisi akan berlanjut dan tidak jarang kita dengar perusahaan logistik nasional yang mulai separuh nafaspunmulai dilirik oleh perusahaan asing ataupun nasional untuk di take over dengan anggapan akan mempermudah dalam strategi pengembangan usaha (market development). Apakah pasar benar terbentuk dan bertambah? Atau sebanarnya hanya memindahkan porsi saja?

Kompetisi akan terus berlanjut dan pilihannya adalah akankah kita terjebak dalam kondisi kompetisi ini? Pergerakan pasar yang tidak stabil dan tidak pasti bukan lakankah semangat kompetisi ini yang akan selalu digunakan? Menarik melihat salah satu feature di Bukalapak yang bisa dijadikan pembelajaran, disaat kita membeli sebuah barang kemudian kita lakukan pembayaran, "Kirim pesanan dengan namamu sebagai pelapak". Feature kedua adalah "Agen Bukalapak". Mungkin feature ini seolah mengajarkan ke pelapak-pelapaknya untuk selalu exist, bukanlah kompetisi yang dibentuk namun dibangunnya fasilitas ini bagi pelapak adalah untuk saling berkoopetisi. Akankah feature ini akan bisa digunakan untuk para pebisnis logistik nasional? Atau secara umum akan digunakan para pebisnis nasional lainnya? Mencari niche dan menciptakan koopetisi menjadi bagian kecil dari strategi yang akan lebih tepat digunakan dalam era VUCA ini.

Oleh : Ricky Rizky, Msc - Marketing Director of Rayspeed Asia