Bekerja Karena Gaji, Nama Besar Perusahaan atau Passion?

Beberapa hari ini ada postingan yang menarik di Linkedin dari salah seorang pengguna Social Media tersebut. Tema yang dilemparkan cukup menarik. Kebetulan yang melemparkan tema ini menjabat sebagai HRD dan postingan ini berkaitan dengan curhatannya setelah melakukan interview dengan beberapa pelamar kerja yang meminta gaji tinggi. Kami rasa ini tema yang menarik dan perlu diangkat. Entah dia bekerja di perusahaan Jasa pengiriman barang ke luar negeri, Firma Hukum, Teknisi di suatu perusahaan manufaktur, dan sejenisnya, pertanyaan ini patut dijawab. Nah, bagi anda yang membaca artikel ini mana yang anda pilih? Karena ini yang nantinya akan berpengaruh pada mindset anda.

Bekerja Karena Gaji

Semua orang butuh uang, ibarat mobil yang butuh bahan bakar untuk berjalan. Bagi seorang Fresh Graduate atau seorang yang baru lulus kuliah dan melamar kerja mungkin harus rela dahulu dihadapkan dengan tawaran stAndar UMR bila ingin bekerja di perusahaan tersebut. Apabila Anda ditawarkan oleh HRD gaji dibawah stAndar UMR, Anda berhak menolak namun jangan keburu melakukan judge secara sepihak bahwa perusahaan tersebut pelit atau tidak menghargai Anda. Namun mohon coba dilihat ke diri sendiri, apa yang membuat Anda tidak dihargai. Sebagai seorang pribadi, apakah Anda sudah memiliki values yang membuat Anda menjadi 'mahal' dan memang layak dibayar mahal?

Kadang uang menyesuaikan dengan kenaikan karir / jabatan. Tapi bisa menjadi bumerang bagi Anda apabila bekerja hanya karena ingin mendapatkan gaji besar. Kenapa?

  1. Tidak ada loyalitas pada perusahaan.
    Anda berpotensi untuk menjadi seorang kutu loncat sejati dimana ada tempat yang menurut Anda lebih menguntungkan, maka Anda akan langsung pindah ke tempat tersebut.
  2. Tidak akan pernah merasa cukup.
    Sampai kapanpun yang namanya manusia tidak akan pernah puas dan merasa cukup dengan gaji yang ada. Selalu merasa kurang dan mengeluh. Apabila Anda bekerja di bagian Purchasing yang berhadapan langsung dengan Supplier, maka Anda akan sangat mudah tergoda dengan iming-iming komisi. Akan makin parah apabila malah dari posisi Anda sendiri yang meminta komisi, karena secara tidak disadari Anda sudah menjadi manusia yang benar-benar orientasi hidupnya hanya uang saja. Bila sudah mencapai taraf ini, mohon evaluasi kembali diri Anda dan tujuan hidup Anda.
  3. Sampai Kapan?
    Masih berhubungan dengan poin B. Apabila Anda bekerja hanya karena uang, uang dan uang saja maka ketika usia Anda sudah mendekati senja (50 - 55 tahun ke atas) Anda akan kebingungan sendiri apa yang harus Anda lakukan ketika pensiun. Nah, sudah waktunya merubah pola pikir Anda yang sudah terlanjur terbentuk bekerja hanya untuk uang, uang dan uang.

Bekerja Karena Nama Besar Perusahaan

Tidak salah apabila Anda ingin bergabung ke sebuah perusahaan dengan brand yang sudah dikenal. Bisa jadi ini untuk meningkatkan pride Anda saja. Namun mohon pastikan kesejahteraan Anda apakah terjamin di perusahaan tersebut. Pertanyaannya adalah sama, target Anda bekerja di sana sampai usia berapa dan apakah Anda menikmati pekerjaan Anda? Atau mungkin sampai berapa lama Anda akan bertahan bekerja di sebuah perusahaan yang Anda pilih berdasarkan hanya karena nama besarnya saja? Jika ini hanya demi gengsi, sampai umur berapa Anda harus bekerja untuk gengsi?

Bekerja Karena Passion

Ini yang jarang dilihat oleh kebanyakan orang. Wajar, mungkin memang karena tuntutan dari orang sekitarnya, atau mindset yang sudah terbentuk sedari kecil oleh lingkungan sekitar. Passion-lah yang membedakan seorang pekerja yang dengan pekerja lainnya. Passion bisa menjadi values dan bisa membuat diri Anda menjadi mahal di mata perekrut pekerja. Pernahkah Anda memiliki pikiran "Wah, pekerjaan ini gue banget deh" atau bilang Perusahaan ini punya visi yang gue banget.

Pertama, Anda harus memahami diri sendiri terlebih dahulu. Apakah yang membedakan Anda dengan yang lainnya? Apakah skill atau keahlian yang Anda kuasai? Apakah visi dan misi tujuan hidup Anda? Ini penting. Yang sering ditemui adalah mereka yang sudah putus asa atau tidak memahami dirinya sendiri cenderung melamar dengan kata-kata 'apakah ada lowongan pekerjaan? Saya bersedia ditempatkan di posisi apa saja'. Nah, ini adalah sebuah kesalahan. Pelamar tersebut ibaratnya tidak memahami dirinya.

Perusahaan juga tidak boleh mengeluh ketika terlanjur merekrutnya menjadi seorang Supir, namun yang ada malah sering datang siang, tidak tahu jalan, dan parahnya malah membawa lari kendaraan perusahaan. Apabila perusahaan memang membutuhkan karyawan yang model seperti ini, perlu mata yang jeli untuk membantu dia menemukan

passion

nya dia ada dimana.

Kedua, Anda harus tahu visi dan misi perusahaan tempat Anda bekerja. Ibarat Anda naik kendaraan umum, Anda sudah tahu tujuan Anda akan kemana dan kendaraan tersebut bisa membawa Anda kesana. Apakah visi dan misi perusahaan tempat Anda bekerja sejalan dengan visi dan misi Anda? Ataukah visi dan misi perusahaan tersebut mampu menginspirasi Anda sehingga Anda mau bergabung?

Bekerja dengan passion berbeda dengan bekerja biasa yang harus mengikuti pola rutinitas yang monoton, karena mereka yang memiliki passion memiliki keasyikan sendiri tenggelam dalam pekerjaannya dan cenderung trance pada pekerjaannya. Dibalik rutinitas pekerjaannya, mereka yang bekerja dengan Passion biasanya memiliki ide-ide segar yang kreatif yang bisa menjadi kontribusi perusahaan untuk berkembang. Hasil pekerjaan yang didapat karena bekerja dengan passion biasanya selalu memuaskan dan mendapatkan penilaian di atas rata-rata. Hal ini yang menjadi nilai tambah karyawan tersebut di mata perusahaan. Peluang-peluangpun menjadi banyak bermunculan, dan yang terpenting adalah Anda menjadi diri Anda sendiri. Anda berhasil menjadi seoran karyawan / pekerja yang menikmati pekerjaannya.

Silahkan simak artikel menarik lainnya mengenai ekspor impor, jasa pengiriman barang ke Jepang, jasa pengiriman barang ke Singapore, jasa pengiriman barang ke Thailand, dan jasa pengiriman ke luar negeri di website Rayspeed Asia http://rayspeed.com